The Flower

a A flower, delicate, fragile and soft, never jaded of the buzzing bees that drop by her throne, tasting her sweet smelling honey in return for a chat or two about their lives, their thoughts and sights of the world.

The Thoughts

There are certain times in your life when you feel that certain things are ..unclear.. indefinite ..obscure ..and dreamlike. But amongst all vague things, the long path of different interpretations will lead you to comprehend something new.

"..If metal can be polished to a mirror-like finish, what polishing might the mirror of the heart require? Between the mirror and the heart is this single difference: the heart conceals secrets, while the mirror does not.."(introduced by a good friend, Rumi's Poetry, 1207)

The Buzzing Bees

erly
lilpixel
vespaman
ibiza
irene
funky-afro
aprian
alaya
wie
nita
iris
diki
adit
enda
neenoy
weedee
pinkme
slesta
ekodox
morningdew
lacsar
principessa
warnawarni
koen
daripadabengong
rave
riesap
ipandilobangneraka
deksay
lontar
tujuhtujuh
ned
dionweblog

Archives

Supported by


powered by SignMyGuestbook.com

 

Amongst all the vague things...

 

Saturday, August 28, 2004
The METROSEXUAL Man

Meet the metrosexual:
He's well dressed, narcissistic and bun-obsessed. But don't call him gay...

Emang bener kali ya, "it takes one to know one", tapi sebenernya untuk tau apa seseorang itu termasuk golongan metrosexual gampang. Just look at one, soalnya begitu kita "NGELIRIK" dia, berarti hampir pasti orang yang kita lirik itu metrosexual. Kok bisa bilang gitu? ya, soalnya berdasarkan kamus, metrosexual adalah seorang pemuda yang punya banyak uang untuk dibelanjakan, memperhatikan penampilan dan gaya hidup dan tinggal di sekitar atau dekat dengan kota metropolitan (soalnya di situlah banyak toko, cafe, tempat 'hang out', club, bar, tempat fitness, spa & salon, ini katanya lho), jujurlah, kalo ganteng, tegap, berpakaian bak iklan berjalan (ber-merk), rambut oke, matching & wangi, perempuan pasti melirik. ;p
Dalam definisi, pria yang disebut sebagai metrosexual adalah pria-pria sejati, beberapa diantaranya malah telah menikah dan bahagia, bukan pria yang gay. Dia kebetulan aja sangat cinta & memperhatikan dirinya sendiri (belum tentu dia egois lho, dia seneng aja menjadi obyek yang 'seksi' dan menjadi perhatian orang). Selain itu, "metro" ditambah dengan kata "sexual" karena meskipun mereka tidak gay, tapi gaya mereka belanja, pergi ke gym untuk fitness bahkan ikut spa dan rajin ke salon untuk perawatan rambut atau kuku sama seperti kebiasaan para perempuan, mirip dengan orang yang homoseksual. Tapi sekali lagi, mereka tidak gay.
Katanya yang menunjang ke-metrosexual-annya itu biasanya kalau mereka bekerja sebagai model, artis, humas, waiter (yang banyak ketemu dengan orang), kerja di majalah atau televisi, kerja di bidang musik, dan olahraga (masih sedikit sih, tapi pria-pria yang ikut fitness kan udah banyak sekarang). Oke, dari muda sampe tua, berarti hampir ada dimana-mana ya? Dengan kata lain, para metrosexual seneng banget jadi perhatian, bahkan jadi "i-wanna-be-like-him" icon untuk pria-pria....liat aja majalah-majalah pria, penuh iklan pakaian, sepatu, dan banyak tips perawatan yang dibilang 'penting' untuk mengumbar image yang oke. Ya emang sih belum tentu semua pria yang kerja di bidang itu jadi metrosexual semua, tapi bagi mereka yang selalu up-tp-date dengan fashion dan gaya hidup, mereka engga bakal segan untuk ngeluarin sejumlah uang demi penampilan dan gaya hidup metropolitan.
Sebenernya kata metrosexual udah ada sejak tahun 1990an, alasan munculnya kata itu adalah karena pria-pria merasa semakin terpojok dengan meningkatnya 'girl power' (emansipasi) di tempat kerja & katanya perempuan jaman sekarang sukses dan memang mampu bekerja setara dengan para pria. Hal ini membuat pria-pria jadi gak pede & butuh nilai lebih untuk menunjang "keberadaannya".
Lalu pria-pria lainnya masuk kategori apa dong ya? Jangan kasihanin dulu hanya karena mereka gak se-keren pria-pria metrosexual. Meskipun kuku mereka tidak dipotong lurus merata & mengkilap, potongan gaya rambutnya yang ituuuuuuuuuu melulu, bajunya tetep yang ituuuuuuuuuu melulu, ga mau beli sepatu yang baru kalo jempol kakinya belum keliatan nongol, atau kulit mereka bersisik kasar & gak mulus karena gak ke salon untuk mandi susu dengan campuran madu, atau wangi sabun batangan ketimbang wangi bvlgari karena gak pake parfum bermerk terkenal. Mungkin pria-pria biasa yang menyadari status mereka berasal dari planet mars dan berusaha menapakkan kakinya di bumi justru sangat sibuk memeras keringat dan bekerja keras mikirin nasib anak isteri agar mereka tidak terlantar sehingga gak punya waktu untuk mikirin dirinya sendiri.
:) atleast mereka tetep rajin potong kuku meskipun agak miring, mereka juga belum tentu bau badan karena masih rajin mandi dan juga sempet pake deodoran sebelum berangkat kerja (kalo engga ya diingetin lah...). Tapi yang utama, yah, paling tidak, kita gak harus khawatir gajinya bakal dia pake semua buat beli baju, sepatu, bayar gym, bayar spa, bayar salon semua buat dirinya sendiri, sampe kita atau anaknya ga kebagian & ga bisa minta uang buat sekolah, belanja atau beli make-up (arrghh! bete ga sih?), dan lebih penting lagi, kita ga perlu pusing dengan koleksi sabun, lotion, shampo, conditioner, pasta gigi, floss, obat kumur, sabun pemutih, facial scrub, body scrub, leg scrub, foot massage lotion, foam pembersih muka, wax bulu rambut, parfum bahkan baju yang dia pake jauh lebih banyak daripada milik kita bukan? :D
Jadi metrosexual sebenernya engga 100% buruk, well, atleast perempuan yang punya pacar seorang pria metrosexual bisa jadi dia lebih bahagia & bangga dengan pasangannya karena pacarnya menarik banyak perhatian. Dan, tentunya kita juga senang kalau pasangan kita bisa tampil prima, gak berantakan, bajunya rapi dan serasi, gak tabrak lari nge-matching-in baju, dan, jangan lupa "wangi", wangi itu harus! :) tapi ya kalo perawatan ke salon dan perhatian terhadap penampilan udah "lebih" dari perempuan sih, kayaknya males juga deh....
Anyways, rasanya semua ini sebenernya akibat dari consumer capitalism! so beware hehe...
Now honestly, are YOU a metrosexual??? ;)

posted by lindie on 22:49



Monday, July 26, 2004
Mengejar Matahari, cerita tentang persahabatan


Rugi bagi kalian yang belum sempet nonton film ini. Garapan Rudi Sudjarwo yang satu ini menurutku dalem banget dan bikin nguras air mata ;p tapi bukan berarti filmnya "cengeng". Meskipun ceritanya sederhana dan ga banyak dialognya, ekspresi para pemainnya udah bikin kita menghayalkan dialog dengan sendirinya, plus pengambilan gambarnya juga bagus banget, very artistic.

Just go see it if you can, if you can't...well, tunggu VCDnya aja... :p


Jaman SMA, umumnya bagi yang cewek & mungkin juga beberapa cowok, karakter atau emosi dari setiap temen kita berbeda. Ada yang pemalu, ada yang eksibisionis, ada yang brutal, ada yang cengeng, dst. Tapi kalau lebih diperhatiin, jenis pakaian, sepatu, aksesoris, topi, jenis musik, hobi atau kegiatan (break dancing, balapan, main bola, softball, cars, atau kegiatan ilmiah) terkesan harus sama biar bisa jadi anggota sebuah "geng", malah, sampe perilaku atau prinsip pun harus sama. Tetep banyak yang menyangkal sebagai anggota "geng",tapi jujur ajalah, secara nggak sadar kita pasti dulu pernah jadi anggota sebuah "kelompok" yang selalu bareng-bareng & kompak :) meskipun engga bisa dibilang nge"geng" banget... *bingung* anyways, begitu mereka lulus sekolah, mau ga mau mereka harus berpisah, kadang karena tuntutan kuliah di tempat yang berbeda atau pindah, bahkan kerja.

Hidup pada umur 18-35 pada umumnya diisi dengan orang-orang baru dan lingkungan baru. Meskipun data itu bukan diambil dari hasil sebuah penelitian (jadi inget Nita), paling nggak itulah gambaran kasar yang bisa gue ambil dari pengalaman sehari-hari. Contohnya nemuin temen baru dengan cara kenalan dengan temen2 di kampus, terus kenal dengan temennya temen-temen, dan seterusnya (prenster kali ye). Abis masa kuliah, umumnya kita masuk ke masa kerja. Kadang kita harus ngalamin 3-4x pindah kerja, tapi justru karena sering pindah, kita jadi nambahin jumlah temen ekstra banyak dengan pribadi-pribadi yang beragam juga.

Ini pendapat dari sudut pandang pertemanan antara cewek-cewek ya, menurut gue sebenernya rugi kalau kita hanya bisa berteman dengan satu kelompok tertentu, karena begitu terjadi sesuatu pada kelompok itu, kadang yang terkucil sulit masuk ke kelompok yang lain karena berbeda pemikiran atau tidak memiliki suatu kesamaan. Emangnya ada yang salah dengan being different? Tentu orang itu punya keahlian atau kegiatan yang ngga kalah menarik dengan kegiatan kita, lagipula, satu kelompok yang terlalu kental atau solid bakal mengkerucutkan suatu prinsip yang jadi landasan kelompok tersebut. Kalau sudah begini, kadang secara ga sadar kita di brainwash dan ditanamkan pemikiran-pemikiran yang belum tentu sesuai dengan pendapat kita. Kadang demi pertemanan, kita relain semua hal, sampe melupakan kepentingan lainnya yang lebih bersifat pribadi, yang penting bagi dirinya sendiri. Tapi, kalau penting bagi seorang individu dan bukan kelompok, jadinya "egois" dan "mementingkan kepentingan sendiri". Kayaknya kita emang saling mendukung satu sama lain kalau ada anggota kelompok yang berhadapan dengan orang di luar kelompok kita, tapi kenyataannya begitu kejadiannya di dalam kelompok itu sendiri, semua bisa berpaling, tetep kita sendiri yang harus menghadapi & menyelesaikan permasalahan.

Ah, susah bener sih bertemen? ya susah kalau hal-hal yang "prinsipil" begini yang dijadiin dasar pertemanan, pemikiran buruk & negatif sering nimbulin rasa benci dan sering ngomporin munculnya pertengkaran.

Kalo kita emang bener-bener menghargai pertemanan, berarti kita berteman secara tulus & ikhlas, mau mengupayakan yang terbaik dan membantu mencari jalan keluar bersama & bukan saling ngomporin (inget Apin di film).

Mungkin kita suka ngga sadar bahwa kita toh ga bisa selamanya ngejalanin hari-hari bersama dalam suatu kelompok tertentu, karena Tuhan menganugerahkan kita jalan hidup masing-masing. Suatu saat kita memang akan berpisah, tapi kita ga tau apa, yang paling jelas mungkin dengan akan adanya ikatan perkawinan dengan seorang sahabat sejati (your other half) selama hidup yang mengakibatkan pemisahan dari kelompok yang udah terbentuk dalam keseharian kita, misalnya kelompok di kantor, kelompok nongkrong, kelompok temen sma, dll.

Tapi meskipun ga bisa selalu bareng lagi, bukan berarti terus kita ninggalin & ngelupain semua temen-temen lama, kita hanya ga bisa ketemu atau berkomunikasi dengan mereka sesering sebelumnya karena ada tanggung jawab lain yang lebih utama. Meskipun masa lalu pertemanan itu pernah senang & asik atau bahkan buruk & pahit, pasti kita inget semuanya & ketulusan kita pada ikatan pertemanan yang akan menjawab semuanya. Semua temen kita ada di dalam hati, kita pasti inget sama mereka ... :)

posted by lindie on 02:24



Wednesday, June 23, 2004
Toge Goreng

Kemaren pagi-pagi aku nemenin bunda belanja ke pasar. Setelah muter-muter, kaki berbecek-becek, baju berbau daging, ikan, sayuran dan lainnya (seru deh pokoknya, i love going to the market) the other thing i look forward to is buying Toge Goreng for breakfast :)

Yes, yes, dis menu is a "must-try" menu kalo anda-anda belum pernah icip atau sedang mampir ke kota hujan :) yang paling enak menurut gue sih, tempatnya persis depan toko roti Bogor Permai (bagi yang tidak tahu tempat ini, just ask around town ;p).

What is dis "Toge Goreng" you say...well, it actually consists of yellow noodles, a bit of tofu, plus, of course, the main ingredient : TAUGE (bean sprouts). Yes well, si mamang yang jualan itu udah punya segala bumbu yang bakal bikin enak itu osengan toge dan tahu, gue ga terlalu merhatiin or nanya sih apa aja yang terkandung dalam spice yang dijadiin bumbu masaknya, tapi yang jelas rasanya tuh endaaaang banget (meskipun banyak juga sih yang engga doyan *ngelirik bunda*). Dan yang paling mantep tu kalo dia masaknya di atas wajan ceper pake arang, bukan kompor minyak tanah karena aroma khas banget, selain itu, khas lainnya adalah kalau semua udah selesai dimasak, mamangnya ngebungkus toge goreng itu pake daun.

Tapi musti rada hati-hati kalo makan toge goreng pagi-pagi, mungkin tepatnya jam 10 ke atas aja, soalnya karena rasanya agak asem, suka bikin kita "nature call" kalo belum sempat makan sesuatu sebelumnya. Oh ya, dijadiin "pra-breakfast" aja kali ye...(better safe than sorry).

But you know what sucks though? yeah, waktu gue ama bunda udah selesai belanja, si abang yang jual toge goreng deket pasar tempat gue belanja itu belon dateng!!! aih, sumpe deh keceewaaa banget...jadi aku belon nikmatin toge goreng deeeeh...*hiks*...


posted by lindie on 23:07



Wednesday, June 02, 2004
The poison of capitalistic entertainment

Postingan ini sama sekali bukan untuk menyindir stasiun televisi manapun di Indonesia, tapi ini cuma pendapat pribadi yang udah lama numplek & pengen dikeluarin :)

Acara yang paling banyak ditayangin di televisi swasta di Jakarta dan sekitarnya:

1. Reality Shows
2. 'Wannabe' Contests
3. Hantu
4. Gossip Shows
5. Sinetron ABG (SD-SMA) dengan tema cinta

Memang, rating acara-acara itu paling tinggi dan paling nguntungin buat dunia entertainment. Tapi dari lima tayangan itu, ga ada satu pun punya nilai mutu.

Untuk reality show, ya emang lucu sih awalnya banyak acara yang intinya adalah ngerjain orang lain for the fun of it, atau mau nyatain cinta ke orang, mau minta maaf ke orang, trus ada yang nyeritain hidup para Akademi Fantasi-ers selama di karantina, etc, etc. At first it was all funny, tapi, lama-lama jadi mikir, ngerjain orang itu sebenernya jahat lho, lagian di acara itu ada yang dikerjainnya dengan ide 'dipecat dari kantor', 'kehilangan mobil', 'disuruh tanggung jawab'. Ya kalo yang dikerjain itu artis-artis ya ga apa lah, I mean they deserve it heheh. Cuman ya merugikan yang dikerjain.

Belum lagi maraknya acara kontes-kontesan, kontes nyanyi, kontes dangdut, kontes model ada di 3 stasiun televisi secara bersamaan. Aw come on, emang sih, mereka jago nyanyi & ngemodel, tapi kan itu hasil pilihan pemirsa gitu lho. "Voted" lagi, kontes-kontes begini kan ga mutu juga, masalahnya yang dibesar-besarin kan popularitasnya doang, tapi bukan kualitas dia yang sebenarnya. Kalo bodi oke muka cantik tapi ga banyak yang sms, dia gagal, kalo suara keren abiz *nyembah-nyembah* tapi yang sms ga banyak, gagal juga, jadi orang-orang itu sebenernya dapet ke-artisannya bukan karena kerja keras dan kualitasnya, tapi hanya jadi proyek buat jasa komunikasi seluler & dunia entertainment. So what do we get? wannabe's deh...sayang aja gitu lho karena yang sebenernya berbakat juga ga lolos...

Terus, banyaaaaaaaaaak banget acara tentang 'penampakan' (bahasa tenar). Ada acara mitos, petualangan gaib, bahkan ada tantangan untuk ngadepin mereka. Gimana ya, kalo menurut aku pribadi, ga ada benarnya kita mengusik dunia gaib, ngapain juga? toh mereka juga tidak mengusik kita bukan? To me, it's a complete waste of time, I'm sure you would also like others to mind their own business :) But lagi-lagi, jangan lupa, alasan dunia entertainment dan stasiun televisi cuma karena tayangin ini rating-nya tinggi, "kan orang-orang yang nonton pada suka, ga ada yang complain kok"....

Acara gosip apa lagi, dari jam 8 pagi (mungkin ada yang lebih pagi??) sampe sore, setiap 24-7, selalu ada acara gosip. That's what most of our societies do, gossip. Selain acara itu cuma ngungkapin keburukan para selebriti dan artis papan atas maupun papan gilesan, gossip yang ditayangin semuanya sama, cuman mungkin ada yang ga lengkap, jadi kalo pagi ga sempet nonton, ya sorenya juga pasti ada, dengan isi yang sama, cuman stasiun tivi & pembawa acara & judul acara yang berbeda...tapi ya, popularitas orang bukan lagi karena prestasinya, tapi karena keburukan-keburukannya....

Sinetron ABG..aduh, ini yang paling ancur. Gimana adek-adek kelas kita bisa jadi orang-orang yang lebih baik moral-akal pikirannya dari kita kalo tayangan sinetron yang ditawarin isinya ga pernah jauh dari rebutan pacar, orang yang 'nerd' dan ga punya teman dan gimana dia dengan bodohnya ngejar-ngejar cewek dan akhirnya cuma didorong dari sepeda, dikerjain, diketawain, dan sakitin. Selain itu, banyak juga yang isinya tentang attitude anak SD-SMA yang seolah-olah boleh bertindak atau berbicara kasar terhadap guru atau orang tuanya, roknya se-paha, bermake-up warna warni, centil, pembenci & sirikan sama temennya karena lebih dari dia, trus ada yang tentang punya ibu tiri, tapi di sinetron itu, ibu tirinya kayak dari neraka gitu...jahat & sadis, ada juga yang puber, jadi anak SMP yang suka sama gurunya, trus gurunya suka juga (judulnya "senandung masa puber" sekarang udah seri yang ke 3!!). Atau tentang anak SMP yang hamil, atau tentang orang yang kurang sehat secara mental (contoh si yoyo & cecep). Entah kenapa, menurut gue yoyo & cecep ini justru menghina mereka yang tidak seperti kita.


Pfiuh...banyak juga ya...

Anyways, menurut aku, memang semua tayangan itu sangat menguntungkan, tapi kita juga musti inget bahwa televisi itu media yang kuat banget dan sangat mampu untuk membentuk pikiran orang yang menontonnya dan ada kemungkinan besar orang akan mencontohnya. Ya mungkin ini bukan scientifically tested, but personally tested. Gimana kita mau maju kalo tayangannya begituan terus? kata temenku lama-lama tivi bisa tayangin bokep deh kalo cuma demi kesenangan pemirsa, hmmmmm...

Ini mungkin karena pertelevisian di Indonesia tergiur sama ide-idenya orang barat, ya disana kan kulturnya juga beda, gaya hidup berbeda, bahkan kepercayaan pun berbeda, dan lebih lagi mereka negara adikuasa & bebas...kita belum siap buat semua hal berbau 'barat', ya atleast ambil positifnya, tapi jangan negatifnya...dan jangan merugikan kita dong, kita punya budaya malu, budaya timur, santun, sopan dan hormat kepada siapapun, punya moral dan akal pikiran yang positif...lama-lama budaya kita sendiri hilang...

Maaf, tapi dari tayangan-tayangan seperti itu di tivi, kayaknya masyarakat bukannya tambah terdidik, tapi justru makin sesat pikirannya. Ya, Guru kok dibentak sama murid, orang tua dilawan, SD pacaran, SMP hamil, SMA rebutan pacar & pukul-pukulan malah sampe bunuh-bunuhan, dendam dan balas dendam, Kuliah narkoba & nyobain tantangan ngadepin setan, agak gedean ikutan kontes biar bisa jadi "artis" dan "terkenal" (oh please...), be-rumah tangga ngegossiiiiiip melulu dari pagi siang sampe sore plus dibahas pula dengan pe-rumah tangga lainnya, pas kerja keburu mati deh dibunuh sama mantan temen di SD karena cemburu...

See what money and capitalism does to the world?? Is this what Indonesian's will turn out to be, 10 years from now????? Do people care about any of this at all...?

posted by lindie on 01:14



Friday, May 28, 2004
Gila, kayaknya jeda nulis postingan di blog maken lama maken ga keruan hehehe...

Makan atau tidak makan daging...?

Anyways, this just popped in my head, this morning while having my so-not-healthy-breakfast of instant noodles ;p me and mum were having a light chat in the dining room, and suddenly she goes, "itu gimana ya pemerintah kok engga bisa ngelarang orang-orang yang jualin daging impor yang sepuluh ribuan itu ya..??!" (alhasil udah 1,5 minggu ga makan daging *serem bow*) "orang kok tega ya ngebohongin rakyat, kalo orang-orang di pedesaan gitu kan engga ngerti ya...kasihan deh" (diakhiri dengan nada kesal dan muka 'frustasi-sesaat', trus beliau langsung ngeloyor ke dapur, mungkin karena gue ga sempet kasih tanggapan, ehm, sorry mum!).

Well, iya emang, gimana ya kalo gitu, terus terang emang kaget kalo denger daging impor 1kg Rp. 10,000.-, orang daging lokal aja Rp. 40.000,-. Pasti susah nyisir seluruh pantai di nusantara untuk mencegah orang-orang gila itu menjual daging yang diakui impor tapi tidak layak jual. Malah di koran udah ada berita daging itu masuk ke supermarket & beberapa pasar. Menurut berita di tv, orang-orang gila itu ngejual dagingnya disiram pake darah daging seger dulu, biar amis (oh, gross...), terus, menurut seorang penjual daging di suatu pasar di kalimantan (yang ngaku ga pernah jual daging semurah itu) "kalo mao tau seger engganya dicium (smell the raw meat), kalo lokal biasanya bau pak, kalo yang impor ga ada baunya". Bukan cuma itu, kata mum, yang dikirim ke kita ada yang udah di pak (in packages) frozen dengan tulisan 'singapore'-nya, ya, kalo udah gitu kan gimana mau curiga ya engga....?

Intinya, waspada ajalah, who knows kan....jangan makan daging dulu, lagian katanya cepet galak dan gampang ileran kalo kebanyakan makan daging :D *ngelap iler*

posted by lindie on 06:49



Monday, May 17, 2004
Nyetir...

Merhatiin lalu lintas di Jabotabek akhir-akhir ini? well, boleh dibilang hukum yang berlaku adalah hukum rimba. Ya emang, hukum rimba itu udah lama diterapin banyak orang, tapi sekarang, gila deh! lebih ancur! ;p

Kenapa kok bisa bilang gitu? Udah sebulan ini aku berenti di lampu merah (ini di JKT and Bogor). Udah jelas kan, kalau lampu yang nyala yang merah berarti kan kita harus berhenti dan memberi kesempatan buat mobil dari arah lain untuk melintas. But what happened?? 4 sampai 6 pengendara motor celingukan dulu mastiin ga ada mobil yang mau lewat & ga ada polisi, abis itu..."ngeeenggggggg, ngeeeng, ngeeeeenggg"...do'i ngebut nyebrang jalan...*bengong*

Selain hari itu, baru minggu lalu aku berenti di persimpangan. Aku mau belok ke kanan, tapi lampu yang ke kanan itu lagi merah. Oke, berenti dong. Emang lampu itu nyalanya agak lama, bukan agak lagi sih, lama bangeeeet...maklum, yang mau belok juga engga banyak. Setelah 2 menit-an, mobil belakang nglakson kecil, ya aku ga maju-lah orang merah...mungkin dia tambah bete, nglakson lagi tapi lebih lama, disusul oleh klaksonan mobil-mobil di belakang dia yang akhirnya jadi kayak orkes terompet gitu...iiiiiiiiih...garing banget! untungnya beberapa detik setelah itu lampunya ijo. Tapi pas dia nyalip dooong, mukanya ngasih lirikan maut gitu! Gahar kali yah.. eheeueheh..

Teruuss...(yak, belum selesai!) 1 bulan terakhir aku sering juga mergokin pengendara motor yang jalan berlawanan arah dengan kita, misalnya di jalanan yang seharusnya "one-way" dia kekeuh jumekeuh lewat...kalo malem, mereka pake lampu pula...tapi nggak hanya itu sodara sodara! Ternyata, mobil pun kekeuh lewat! (contoh kasus di jalan Lenteng Agung menuju Jalan Margonda, Depok)...

Gimana ya kalo begini, padahal kan indonesia negara hukum, but I always fail to see the acknowledgement of our nation's amendement...yang lucu tuh, disaat sebenernya kita melakukan hal yang benar, artinya kalo lampu merah nyala kita berenti, atau kalo jalan pelan di tol ambil jalur paling kiri, ga nyerobot dari bahu jalan, nyalip dari kiri de el el, malah kita yang diklaksonin, disalahin dan di omelin...trus, yang lebih nyolot tu mereka gitu lho...aneh banget... ;p

posted by lindie on 02:01